Postingan

Tradisi Warisan di Desa yang Aneh

Ada satu hal yang menurut penulis 'tidak pantas' di desa, di mana mertua penulis tinggal. Desa itu memiliki tradisi, yang mana orang tua memberikan rumah yang ditinggalinya, kepada anaknya (terutama anak laki-laki), sebagai warisan yang diberikan setelah menikah. Dan malangnya, si Orang tua jika tidak memiliki rumah lain, memilih untuk hidup di bagian belakang, yang biasanya sebelumnya dapur. Artinya, sang Orang tua mengalah untuk tinggal di rumah bagian belakang. Namun hal ini hanya bagi mereka yang tidak mampu dalam segi harta. Sedangkan bagi para orang tua yang tergolong mampu, mereka membuatkan sendiri rumah lain, untuk di tinggali oleh anaknya itu. Lalu dimanakah 'tidak pantas'-nya? Menurut penulis, seharusnya, sebagai anak, meskipun tradisi yang berlaku seperti itu, hendaknya dia mengerti dan dapat membuat atau mempunyai rumah sendiri. Artinya, sepantasnya, mereka tetap membiarkan orang tuanya hidup dirumah mereka sendiri. Dan yang mungkin itu adalah hasil kerja k...

Permasalahan Tanah Dunia yang Menyebalkan

Hari ini, untuk kesekian kalinya, Ibu mertua mengajak membicarakan masalah tanah. Penulis yang tidak begitu paham bahasa Osing, membuat benci keadaan ini. Bukan benci ke Ibu mertua, tetapi untuk keperluan sehari-hari saja penulis sudah sering salah paham karena bahasa, bagaimana dengan curhatan permasalahan seperti ini. Apalagi masalah tanah adalah masalah yang krusial, yang bisa membuat saudara sedarah saja bertengkar, apalagi dengan orang lain. Dan, penulis jadi serba salah, tidak mau mendengarkan dianggap durhaka/tidak perduli. Tetapi jika didengarkan pun percuma, penulis tidak mengerti keinginan Ibu itu seperti apa. Seribu kali mencoba menjelaskan "Tunggu saja dulu Bu", esok harinya, kepikiran lagi. Hal ini karena, awal penyebabnya adalah gambar bidang tanah Ibu yang belum di sertifikat, tertindih oleh bidang tanah sebelahnya. Hal ini terlihat juga di peta Di mana pertanyaannya, kesalahan apakah memang pemilik tanah sebelah memakan tanah Ibu, petugas pengukur tanah yang s...

Sedikit Belajar dari Taiwan

Data Taiwan Centers of Disease Control, pada 29 Maret 2019 tercatat dari 298 penduduk Taiwan yang terinfeksi COVID-19, hanya dua penderita meninggal. Mereka melakukan isolasi diri, bahkan sebelum virus dinyatakan pandemik oleh WHO. Mereka juga berani mengirimkan delegasi untuk meminta sampel ke Wuhan, untuk diteliti sendiri dan ditemukan obatnya. Artinya, Taiwan sudah bersiap dulu secara teknologi dan berani mengisolasi diri, karena memang pariwisata bukan penyumbang utama devisa negara. Selain itu pengakuan bahwa mereka telah merdeka, menjadikan pola pikir mereka untuk mandiri dan produktif dalam segala bidang. Perlu diketahui, Taiwan juga sudah lama mengembangkan software yang dapat digunakan untuk mendesain dan mengembangkan obat dari suatu penyakit, dengan metode Artificial Intelligence. Sehingga tidak hanya eksperimen, usaha menemukan obat juga dilakukan secara simulasi. Dan mungkin dari pengalaman mereka terhadap SARS, memunculkan tindakan-tindakan preventif yang kini telah meleb...

Uang Suami adalah Uang Istri

Di masyarakat berkembang paham bahwa uang suami adalah uang istri. Sebaliknya juga demikian, tetapi kadang berlaku uang istri adalah uang dia sendiri. Dalam Islam saya rasa memanglah benar jika seharusnya uang suami adalah uangnya sendiri, dan juga uang istri adalah uannya sendiri. Hal ini berdasarkan hukum waris, karena adanya harta Bapak dan Ibu. Sehingga seharusnya memang disendirikan, antara uang dari hasil kerja suami, dan juga hasil kerja dari istri semenjak awal menikah. Tetapi yang perlu diperhatikan, dalam harta suami terdapat nafkah istri dan nafkah anak-anak, dan itu memang kewajiban dari suami. Sehingga, jika dipikir lebih lanjut, keluarga sebenarnya adalah hubungan pertemanan yang diikat oleh darah. Dan yang membuat berbeda adalah kewajiban-kewajiban, yang termasuk kewajiban berbakti kepada orang tua, yang telah diatur dalam agama.

Penanaman Konsep Monogami

Jika kita pikir ulang, di setiap film, sinetron dan lagu-lagu, baik itu nasional atau pun internasional, kebanyakan mengajarkan kepada lelaki akan kesetiaan terhadap satu wanita saja (monogami). Padahal dalam Islam dan kenyataannya, Islam men-sunnah-kan poligami. Artinya lelaki boleh mencintai wanita lebih dari satu, asalkan adil. Coba saja dibuktikan, bahwa jumlah penduduk wanita di dunia ini lebih banyak dibanding laki-laki. Bagaimana tidak, di masyarakat kita ini, suami yang memiliki istri lebih dari satu, istri kedua dan selanjutnya dianggap sebagai pelakor. Bahkan di masa pacaran, yang pacaran saja dalam Islam tidak boleh, di film televisi, diajarkan bahwa mereka akan menikah cuma dengan wanita tokoh utama saja. Sedangkan, jika ada film yang menunjukkan bukti bahwa menikah lebih dari satu, malah tidak ditonton sama sekali. Dan akan sangat lucu, jika malah ada yang menyukai dan sampai menikah dengan sesama jenis. Dari itu semua, poligami yang saya maksud diatas, bukan poligami deng...

Setan Sialan Ini

Entah kenapa aku masih ingin mengingatnya. Mungkin karena perasaan dendam ini, ingin mengetahui tentang kabar buruknya saja. Seringkali masih saja aku mengintip, apakah dia masih secantik yang dulu. Begitu pintar setan, karena memberikan bisikan tentang perasaan ini. Padahal nyatanya aku lebih mencintai istriku yang telah mengandung buah hasil cinta kami, saat ini. Padahal juga aku telah tahu bahwa, itu hanya godaan yang membuang-buang waktu saja. Itulah wanita. Ya Tuhan buanglah rasa ini, cukup berikan kepada anak dan istriku saja. Apapun dia sekarang, secantik apa dia sekaranag, aku tidak peduli, sebab kehidupanku belum tentu lebih baik jika aku menikah dengannya. Istriku adalah wanita yang memang terbaik yang diciptakan Tuhan untukku.

Cara Menyadarkan Teman yang Memiliki Kekurangan dalam Berpikir

Saya memiliki teman yang suka selalu berkata apa adanya sesuai yang ada dipikirannya, saat itu dia dapat langsung utarakan. Suatu hari teman saya ini berkata kepada saya bahwa dia ingin segera memiliki momongan lagi, padahal untuk mengurus anak pertamanya saja yang baru berusia setahun, lebih banyak mengorbankan baik waktu dan dana dari pihak istri. Meningat pengorbanannya mungkin melebihi dari jumlah uang yang di nafkahkan teman saya itu terhadap istrinya. Sehingga sungguh sangat tidak etis, jika dia ingin cepat-cepat memiliki momongan lagi, padahal dia belum mengembalikan uang yang digunakan pihak orang tua istri semasa mengurus kelahiran anak pertamanya. Harapan saya, semoga teman saya membaca tulisan ini. Agar dia sadar memiliki anak itu bukan hanya rejeki, tetapi juga tanggung jawab.