Sedikit Belajar dari Taiwan
Data Taiwan Centers of Disease Control, pada 29 Maret 2019 tercatat dari 298 penduduk Taiwan yang terinfeksi COVID-19, hanya dua penderita meninggal.
Mereka melakukan isolasi diri, bahkan sebelum virus dinyatakan pandemik oleh WHO. Mereka juga berani mengirimkan delegasi untuk meminta sampel ke Wuhan, untuk diteliti sendiri dan ditemukan obatnya.
Artinya, Taiwan sudah bersiap dulu secara teknologi dan berani mengisolasi diri, karena memang pariwisata bukan penyumbang utama devisa negara. Selain itu pengakuan bahwa mereka telah merdeka, menjadikan pola pikir mereka untuk mandiri dan produktif dalam segala bidang.
Perlu diketahui, Taiwan juga sudah lama mengembangkan software yang dapat digunakan untuk mendesain dan mengembangkan obat dari suatu penyakit, dengan metode Artificial Intelligence. Sehingga tidak hanya eksperimen, usaha menemukan obat juga dilakukan secara simulasi.
Dan mungkin dari pengalaman mereka terhadap SARS, memunculkan tindakan-tindakan preventif yang kini telah melebur menjadi budaya. Contohnya menggunakan masker, bukan untuk mencegah tertular penyakit dari orang lain. Tetapi justru mencegah orang lain tidak tertular penyakit yang ada dalam diri pemakai. Sebagaimana halnya wanita yang menggunakan jilbab, jilbab bukan untuk melindungi yang mengenakannya, tetapi untuk melindungi mata lelaki yang melihatnya.
Taiwan juga tidak menggunakan desinfektan dan hand sanitizer secara masif, mereka lebih menganjurkan penggunaan sabun, yang didukung oleh tempat cuci tangan yang dapat ditemukan dimana-mana. Cukup para petugas kebersihan, yang memberikan desinfektan ke lantai, jendela, meja dan benda-benda mati lainnya, yaitu bersamaan ketika melaksanakan pekerjaannya sebagai Cleaning Service.
Dan sudah pasti, budaya buang sampah sembarangan tidak ada di Taiwan. Sampah sudah terbiasa dipisah secara organik dan anorganik oleh masing-masing penduduk. Di mana truk sampah yang juga tersendiri, berturut-turut berkeliling menjemput sampah tiap sorenya. Dan barang-barang elektronik, meskipun masih bisa dipakai, maksimal tiga tahun harus dibuang dan diganti.
Kesimpulannya, Taiwan telah bersiap, baik secara teknologi, ekonomi, dan pengalaman untuk menghadapai penyakit pandemik seperti COVID-19. Sehingga langkah penanganan dan pencegahan yang telah mereka implementasikan sebagai budaya, mungkin adalah yang patut kita tiru.
Komentar
Posting Komentar