Permasalahan Tanah Dunia yang Menyebalkan

Hari ini, untuk kesekian kalinya, Ibu mertua mengajak membicarakan masalah tanah.

Penulis yang tidak begitu paham bahasa Osing, membuat benci keadaan ini.

Bukan benci ke Ibu mertua, tetapi untuk keperluan sehari-hari saja penulis sudah sering salah paham karena bahasa, bagaimana dengan curhatan permasalahan seperti ini.

Apalagi masalah tanah adalah masalah yang krusial, yang bisa membuat saudara sedarah saja bertengkar, apalagi dengan orang lain.

Dan, penulis jadi serba salah, tidak mau mendengarkan dianggap durhaka/tidak perduli. Tetapi jika didengarkan pun percuma, penulis tidak mengerti keinginan Ibu itu seperti apa.

Seribu kali mencoba menjelaskan "Tunggu saja dulu Bu", esok harinya, kepikiran lagi.

Hal ini karena, awal penyebabnya adalah gambar bidang tanah Ibu yang belum di sertifikat, tertindih oleh bidang tanah sebelahnya.

Hal ini terlihat juga di peta

Di mana pertanyaannya, kesalahan apakah memang pemilik tanah sebelah memakan tanah Ibu, petugas pengukur tanah yang salah catat, petugas input ATR BPN yang salah input ke komputer, atau memang Ibu mertua penulis yang lupa.

Kami pun sudah mencoba mengkonfirmasi dengan pihak berwenang desa, dan saat tulisan ini ditulis, masih dalam kondisi tunggu.

Tetapi tetap saja Ibu kepikiran.

Lalu apa yang penulis lakukan?

Hanya diam, biarkan nanti penulis berdebat dengan Ibu mertua, ketika umur kami sebaya di hari penghakiman.

Toh, pasti juga waktu itu Ibu sudah diberitahu oleh Allah terlebih dahulu siapa yang salah atas permasalahan tanah ini.

Dan sampai kapan pun juga, penulis akan benci dengan masalah tanah, serta semoga Allah selalu menghindarkan penulis dari permasalahan-permasalahan krusial dunia seperti ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sedikit Belajar dari Taiwan

Setan Sialan Ini

Kredibitas Orang yang Suka Bilang Mempermudah Orang Lain