Hari ini, untuk kesekian kalinya, Ibu mertua mengajak membicarakan masalah tanah. Penulis yang tidak begitu paham bahasa Osing, membuat benci keadaan ini. Bukan benci ke Ibu mertua, tetapi untuk keperluan sehari-hari saja penulis sudah sering salah paham karena bahasa, bagaimana dengan curhatan permasalahan seperti ini. Apalagi masalah tanah adalah masalah yang krusial, yang bisa membuat saudara sedarah saja bertengkar, apalagi dengan orang lain. Dan, penulis jadi serba salah, tidak mau mendengarkan dianggap durhaka/tidak perduli. Tetapi jika didengarkan pun percuma, penulis tidak mengerti keinginan Ibu itu seperti apa. Seribu kali mencoba menjelaskan "Tunggu saja dulu Bu", esok harinya, kepikiran lagi. Hal ini karena, awal penyebabnya adalah gambar bidang tanah Ibu yang belum di sertifikat, tertindih oleh bidang tanah sebelahnya. Hal ini terlihat juga di peta Di mana pertanyaannya, kesalahan apakah memang pemilik tanah sebelah memakan tanah Ibu, petugas pengukur tanah yang s...
Adakalanya seseorang bilang bahwa dirinya adalah orang yang memudahkan siapa pun yang mempunyai urusan dengannya. Dalam bahasa Jawanya dia akan bilang "Aku iki wong penakan". Namun perkataan tidak akan membuktikan apa-apa sampai kiita berurusan dengannya. Cobalah lakukan bisnis dengannya satu atau dua kali. Ketika itu saya yakin kita akan tau apakah dia akan benar-benar orang yang suka mempermudah atau mepersulit.
Jika kita pikir ulang, di setiap film, sinetron dan lagu-lagu, baik itu nasional atau pun internasional, kebanyakan mengajarkan kepada lelaki akan kesetiaan terhadap satu wanita saja (monogami). Padahal dalam Islam dan kenyataannya, Islam men-sunnah-kan poligami. Artinya lelaki boleh mencintai wanita lebih dari satu, asalkan adil. Coba saja dibuktikan, bahwa jumlah penduduk wanita di dunia ini lebih banyak dibanding laki-laki. Bagaimana tidak, di masyarakat kita ini, suami yang memiliki istri lebih dari satu, istri kedua dan selanjutnya dianggap sebagai pelakor. Bahkan di masa pacaran, yang pacaran saja dalam Islam tidak boleh, di film televisi, diajarkan bahwa mereka akan menikah cuma dengan wanita tokoh utama saja. Sedangkan, jika ada film yang menunjukkan bukti bahwa menikah lebih dari satu, malah tidak ditonton sama sekali. Dan akan sangat lucu, jika malah ada yang menyukai dan sampai menikah dengan sesama jenis. Dari itu semua, poligami yang saya maksud diatas, bukan poligami deng...
Komentar
Posting Komentar